arrow_upward
settings_brightness
Pandemi Covid-19 tradisi arak-arakan Prajurit Patang Puluhan sebagai tradisi budaya khas Demak tidak digelar. Namun prosesi penjamasan pusaka tetap digelar  secara terbatas.

Salah satu keluarga ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga, R Krisnaidi menyampaikan, Prajurit Patang Puluhan adalah rombongan prajurit berjumlah 40 orang yang mengawal Adipati Demak dan minyak jamas dipimpin oleh Lurah Tamtomo dari Pendapa Kabupaten menuju Dalem Kasepuhan Kadilangu.

"Minyak jamas merupakan sarana penyucian Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga," jelas R Krisnaidi.

Namun demikian, lanjutnya, pihak ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga tetap melaksanakan prosesi penjamasan pusaka secara terbatas. Penjamasan hanya dilakukan oleh pihak keluarga panembahan dan kasepuhan dengan berselang waktu.

Prosesi penjamasan dua pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga, yakni Keris Kiai Carubuk dan Kutang Ontokusumo hanya dikawal prajurit abdi dalem dan aparat TNI/Polri

“Penjamasan atau pencucian bagi keluarga itu wajib. Ini sesuai pesan Eyang Sunan Kalijaga. Beliau berkata ‘Nek (aku) wis seda, rawato agemanku pusaka keris Kiai Carubuk dan Kutang Ontokusumo’.

Meski demikian, kami tetap menggunakan protokol kesehatan Covid-19, dengan memakai masker, jaga jarak dan menjaga kebersihan dan tanpa jabat tangan,” jelas Krisnaidi pada acara penjamasan pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga di Makam Kadilangu.

Ditambahkan, warga menyakini jika berjabat tangan dengan ahli waris, akan mendapat berkah.

Sehinga mereka yang rela berjubel dan berdesakan untuk berjabat tangan kepada ahli waris yang dilakukan saat telah selesai menjamas dan keluar cungkup. Namun kali ini, kegiatan tersebut ditiadakan.

“Kali ini tidak ada desak-desakan dan berebut salaman, sebab area penjamasan telah disterilkan pihak keamanan agar tidak terjadi kerumunan massa,” lanjut Krisnaidi.

Sebelum penjamasan, kegiatan diawali dengan tradisi selamatan berupa doa bersama serta menyuguhkan nasi ancakan di malam hari.

Nasi ancakan adalah nasi yang didalamnya banyak lauk pauk, seperti suwiran ayam, ikan asin, rempeyek, sayuran daun papaya dan lainnya. Nasi diletakkan di atas lembaran daun pohon jati dan di bawahnya terdapat tatakan belahan bambu.

Jamasan Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga Dilaksanakan Terbatas

Minggu, 16 Februari 2020 : 10:16
Pandemi Covid-19 tradisi arak-arakan Prajurit Patang Puluhan sebagai tradisi budaya khas Demak tidak digelar. Namun prosesi penjamasan pusaka tetap digelar  secara terbatas.

Salah satu keluarga ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga, R Krisnaidi menyampaikan, Prajurit Patang Puluhan adalah rombongan prajurit berjumlah 40 orang yang mengawal Adipati Demak dan minyak jamas dipimpin oleh Lurah Tamtomo dari Pendapa Kabupaten menuju Dalem Kasepuhan Kadilangu.

"Minyak jamas merupakan sarana penyucian Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga," jelas R Krisnaidi.

Namun demikian, lanjutnya, pihak ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga tetap melaksanakan prosesi penjamasan pusaka secara terbatas. Penjamasan hanya dilakukan oleh pihak keluarga panembahan dan kasepuhan dengan berselang waktu.

Prosesi penjamasan dua pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga, yakni Keris Kiai Carubuk dan Kutang Ontokusumo hanya dikawal prajurit abdi dalem dan aparat TNI/Polri

“Penjamasan atau pencucian bagi keluarga itu wajib. Ini sesuai pesan Eyang Sunan Kalijaga. Beliau berkata ‘Nek (aku) wis seda, rawato agemanku pusaka keris Kiai Carubuk dan Kutang Ontokusumo’.

Meski demikian, kami tetap menggunakan protokol kesehatan Covid-19, dengan memakai masker, jaga jarak dan menjaga kebersihan dan tanpa jabat tangan,” jelas Krisnaidi pada acara penjamasan pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga di Makam Kadilangu.

Ditambahkan, warga menyakini jika berjabat tangan dengan ahli waris, akan mendapat berkah.

Sehinga mereka yang rela berjubel dan berdesakan untuk berjabat tangan kepada ahli waris yang dilakukan saat telah selesai menjamas dan keluar cungkup. Namun kali ini, kegiatan tersebut ditiadakan.

“Kali ini tidak ada desak-desakan dan berebut salaman, sebab area penjamasan telah disterilkan pihak keamanan agar tidak terjadi kerumunan massa,” lanjut Krisnaidi.

Sebelum penjamasan, kegiatan diawali dengan tradisi selamatan berupa doa bersama serta menyuguhkan nasi ancakan di malam hari.

Nasi ancakan adalah nasi yang didalamnya banyak lauk pauk, seperti suwiran ayam, ikan asin, rempeyek, sayuran daun papaya dan lainnya. Nasi diletakkan di atas lembaran daun pohon jati dan di bawahnya terdapat tatakan belahan bambu.